Ditulis Oleh : Thathit Manon Andini
Pagi itu, seperti biasa, Lita berangkat ke sekolah diantar oleh Mama dengan sepedah montor yang mulai usang. Hal itu terjadi setiap pagi serasa kebiasaan rutin seperti halnya Mama menyiapkan sarapan pagi dan juga membenahi baju Lita yang kadang terlihat kusut, Mama bergegas menyeterikannya. Tapi hari itu, sepulang sekolah, Lita nampak murung.
“Ada apa Nak?” tanya Mama dengan lembut.
Pertanyaan itu membuat Lita merasa ada kasih sayang yang mengalir dari Mama secara tulus lewat nada halus suara Mama.
“Anisa cerita mendapatkan hadiah ulang tahun berupa sepeda kayuh berwarna merah muda serta boneka bebek yang lucu,” cerita Lita dengan suara agak serak menandakan Lita sedang sedih.
“Jangan sedih ya Nak, nanti kalau Ayah sudah ada uang, kamu juga akan dibelikan hadiah yang bagus, mahal dan banyak.”
Dengar hal itu, Lita hanya diam dan dia merasa kalau Mama dan Ayah tidak sayang padanya karena tidak ada hadiah yang mahal untuk Lita.
Sore hari itu terasa sepi, Mama ada di kamar istirahat, sedang Ayah belum juga datang. Tanpa terasa Lita tertidur ketika menunggu Ayah datang. Pada malam hari Lita kebangun, dan melihat buntalan kecil di atas meja berwarna pink. Karena warna itu kesukaan Lita, maka langsung saja Lita menyamperinya. Barang tersebut adalah nota kecil, barang yang Lita inginkan selama ini.
Pagi harinya, Lita baru ketemu Ayah dan bercerita bahwa nota pink itu untuk Lita. Ayah ingat kalau hari ini Ultah Lita maka Ayah pulang terlambat karena harus membelikan hadiah tersebut.
“Kemarin ayah lembur sampai malam, tapi menyempatkan mampir ke toko untuk membeli hadiah ultah Lita.”
Mendengar kata-kata Ayah itu, Lita tidak bisa berkata-kata. Dalam hati Lita berkata dan menyadari bahwa selama ini Mama dan ayah sangat menyayangi dia, tidak seperti yang ia pikirkan selama ini. Mama dan Ayah ternyata menyayangi Lita tidak degan kata-kata, melainkan melalui kerja keras dan perhatian sederhana setiap hari.
Bahagia tidak selalu datang dari hal-hal besar atau benda-benda mahal. Sejak hari itu, Lita mulai menyadari banyak perhatian kecil yang dulu sering ia abaikan. Ia melihat bagaimana Mamanya selalu menyisihkan potongan ayam terbaik untuknya saat makan bersama.
Ayahnya pun tidak pernah lupa memastikan lampu kamar tetap menyala karena tahu Lita takut gelap. Bahkan tanpa sepengetahuan Lita, Ayah dengan sabar membersihkan dan mengelap sepatunya setiap malam agar keesokan paginya sepatu itu sudah bersih saat dipakai ke sekolah. Dari semua hal sederhana itu, Lita akhirnya mengerti bahwa perhatian kecil sering kali menyimpan cinta yang sangat besar. ***
Pesan Moral :
“Barang dan perhatian kecil sering kali menyimpan cinta yang sangat besar.”

